Mbah surip: si Khidir jaman modern

August 5, 2009 at 2:15 am Leave a comment

judul asli
Tak Ada Cinta di Media: Tribute to Mbah Surip
Ditulis Oleh: Muhammad Taufiq
http://kenduricinta.com/article.php?id=162

Saya mengenal Mbah Surip sekitar tahun 2004. Waktu itu SCTV yang beberapa kali menayangkannya. Tetapi “ledakan” kepopulerannya tidak terjadi. Terhitung hanya beberapa bulan saja orang mengenal dan membicarakannya. Mungkin karena kemasan entertaining-nya gak “kena” waktu itu.

 

Lama berselang, kakek yang kabarnya lahir di Mojokerto 60-an tahun yang lalu ini, tidak saya dengar sama sekali. Hingga sampai akhir tahun 2006 saya mendapati kembali pria paruh baya dengan penampilan dan gaya khasnya ini di acara Kenduri Cinta (KC). Dia selalu menjadi “artis tetap” di acara yang dimotori oleh Cak Nun (panggilan akrab Emha Ainun Nadjib) ini. Waktu itu KC selalu digelar sebulan sekali. Namun seiring dengan dialektika yang terjalani, acara yang digelar setiap Jumat kedua ini hanya tentatif saja belakangan. Ia akan hadir di Taman Ismail Marzuki (TIM) jika memang “sudah waktunya” untuk tampil.

Begitulah. Setiap ada KC maka di situ pula ada Mbah Surip. Jika Cak Nun dengan Kiai Kanjengnya ditanggap oleh komunitas tertentu pun, Mbah Surip tidak pernah ketinggalan nimbrung bersama mereka. Lagu yang dibawakannya juga tetap lagu yang banyak ditembangkan oleh banyak orang sekarang ini. Alhasil lagu “Tak Gendong” itu sudah amat akrab di telinga ini sejak akhir 2006. Apalagi buat orang-orang yang suka nongkrong bareng dengannya di Warung Apresiasi (Wapres) Bulungan atau komunitas awal KC. Dan sebenarnya tidak cuma lagu itu yang cukup populer dan banyak diminati oleh jamaah KC. Ada lagu namanya “Bangun Tidur”. Lagu ini malah sudah jadi semacam lagu wajib di acara yang kumpulan manusianya disebut dengan ma’iyah (kebersamaan) ini. Selain itu ada juga yang judulnya “Lagu Siluman”. Wah, yang ini malah lebih nyentrik lagi dari “Tak Gendong”. Pembawaannya juga jauh lebih nyentrik dari pada klip yang ada di TV.

Keberadaan Mbah Surip di acara yang sering disebut maiyahan ini sering menjadi penyegar disaat jumud menghinggapi para hadir. Jika penat karena diskusi sudah terasa maka tampillah si Mbah. Yang hadir pun sontak tertawa, padahal belum lagi dia bernyanyi. Seperti yang sering kita saksikan di TV akhir-akhir ini, segala tingkah polanya memang selalu mengundang tawa. Bahasanya yang rada-rada aneh, keterangannya yang lumayan ngawur namun mengandung unsur surprise, selalu membuat semua yang hadir tertawa. Apalagi jika tawa khasnya keluar, membuat yang hadir tambah terpingkal-pingkal. Jika sudah demikian, suasana segar namun hangat terasa kembali.

Saat itulah kami merasakan cinta – sebuah relasi yang tidak dihitung berdasar logika untung-rugi. Mbah Surip tampil menyanyikan lagunya karena cinta kepada kami; kami pun menerimanya dengan penuh kecintaan kepadanya. Tidak ada yang dibayar maupun membayar di acara ini. Tidak tampak rasa bosan meski setiap bulan selalu lagu itu-itu saja yang disajikan si Mbah. Semua karena kecintaan yang hadir kepada satu sama lainnya. Berbicara tentang apa saja asalkan selalu dialasi oleh cinta. Cinta kepada bangsa, negara, sesama, kepada Tuhan, alam, dan siapapun serta apapun asalkan pantas untuk didekati dengan cinta. Namanya saja Kenduri Cinta. Pesta dari, oleh, untuk, dan karena cinta.

Bukan hanya rambut gimbalnya yang membuat pria (yang kabarnya pula) beranak empat ini menarik. Pembawaan Mbah Surip yang “ultra” poloslah yang justru, menurut saya, membuatnya unik. Bahkan teramat unik. Mbak Bertha, guru vokal yang wajahnya juga sering nongol di acara Kontes Dangdut TPI (KDI), menilai si Mbah sebagai sosok yang amat merdeka. Ia bisa tidur dimana saja dia mau. Dia tidak tergantung pada tempat tidur untuk bisa tidur. Ia tergantung pada matanya, yang jika merasa ngantuk ia akan pejamkan saat itu pula. Entah itu di halte, di cafe, atau dimanapun dia berada. Cak Nun sendiri mengumpamakan Mbah Surip seperti tahi lalat. Keberadaannya mungkin remeh dan tidak penting. Tetapi ia bisa membuat manis wajah seseorang. Keberadaan Mbah Surip mungkin tidak penting. Tetapi ia membuat manis hidup ini. Ia membuat banyak orang terhibur setiap mereka mendapatinya.

Kepolosan itulah yang mungkin menular pada lagu-lagunya. Jika bukan Mbah Surip yang membawakan lagu “Tak Gendong”, hasilnya pasti tidak akan seperti Mbah Surip membawakan. Jadi perpaduan diri dan lagu yang poloslah yang, menurut saya, membuat lagu yang kabarnya sudah menjadi ring back tone (RBT) lebih dari sejuta pengguna ponsel ini meledak.

Tetapi rasanya bukan itu semata yang membuatnya jadi terkenal. Bahkan faktor kepolosan bukanlah faktor yang menjadikannya terkenal. Kepolosan hanyalah nilai uniknya. Kepolosan adalah “nilai jualnya”. Yang membuatnya jadi terkenal adalah media. Media massa telah membuat si Mbah menjadi lebih tenar dari sebelumnya. Sekarang hampir setiap orang mengenalnya. Orang-orang dari Merauke hingga Sabang. Mungkin juga di negeri tetangga. Lagunya dinyanyikan oleh banyak orang, dijadikan RBT, dan sebagainya.

Jadwal show pun berdatangan. Dari stasiun TV ke TV lainnya. Dari satu kota ke kota lainnya. Tidak hanya untuk bernyanyi, tetapi juga untuk acara komedi, reality show, infotainment, dan lain-lain. Managernya sampai kewalahan mengatur jadwal kabarnya.

Mbah Surip pun jadi OKB (orang kaya baru). Sebuah mobil sudah dimilikinya. Rumahnya tambah ciamik. TV-nya baru, lebih besar dari sebelumnya. Royalti dari RBT lagu “Tak Gendong” saja kabarnya sudah 4,5 milyar. Itu pun cuma dari satu provider, belum dari provider yang lain. Belum lagi honor dari show-show yang lain. Singkatnya Mbah Surip sudah jadi selebritis baru. Keberadaannya sudah terima lebih luas. Tidak hanya di komunitas-komunitas yang “kering” saja seperti selama ini.

Namun itulah yang saya wanti-wanti – sesuatu yang menjadi semacam kegelisahan saya. Saya teringat sebuah “teori” dari salah seorang teman. Dia bilang, “siapa yang dibesarkan oleh media, akan dikecilkan oleh media suatu saat kelak”. Sekelebat kemudian saya teringat pada Aa Gym, dai kondang yang pernah dimanja oleh media. Di siarkan kemana-mana. Setelah dia mempraktekkan poligami, media pun seolah “membunuhnya”.

Tentu saja saya berharap itu tidak terjadi pada diri unik si Mbah. Saya berharap pria nyentrik yang ngakunya sudah jalan-jalan ke banyak negara ini tidak “depend on” media. Tidak keblinger karena besar oleh media. Tidak lupa diri karena terkenal. Tidak berubah karena sudah masuk TV, dan tidak-tidak sejenis lainnya. Pendeknya tidak “kalah” oleh media. Saya tidak mau melihat si Mbah yang merdeka menjadi terjajah oleh dan karena media yang korporatis seperti sekarang ini. Lebih dari itu saya berharap Mbah “nyentrik” Surip ini bisa lebih besar dari kebesaran yang dibuat oleh media padanya.

Kadang-kadang dalam hati kecil saya berdoa agar si mbah tidak lama-lama “dipake” oleh media. Bukan karena tidak mau si mbah jadi terkenal, kaya, atau yang lainnya. Tetapi karena media tidak memiliki CINTA.

Entry filed under: art. Tags: .

How to make a Gunbound Server !

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Trackback this post  |  Subscribe to the comments via RSS Feed